Perihal ‘Iddah

Perihal ‘Iddah

Iddah (Arab: عدة; "waktu menunggu" ) adalah sebuah masa di mana seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya, baik diceraikan karena suaminya mati atau karena dicerai ketika suaminya hidup, untuk menunggu dan menahan diri dari menikahi laki-laki lain.

Seorang perempuan yang sedang dalam masa iddah disebut mu’taddah. Iddah sendiri menjadi 2, yaitu perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya (mutawaffa ‘anha) dan perempuan yang tidak ditinggal mati oleh suaminya (ghair mutawaffa ‘anha).

Iddah diwajibkan untuk memastikan apakah perempuan tersebut rahimnya sedang mengandung atau tidak, hal tersebut adalah penyebab kenapa seorang perempuan harus menunggu dalam masa yang telah ditentukan. Apabila ia menikah dalam masa iddah, sedangkan kita tidak mengetahui apakah perempuan tersebut sedang hamil atau tidak dan ternyata dia hamil maka akan timbul sebuah pertanyaan “Siapa bapak dari anak ini?” dan ketika anak tersebut lahir maka dinamakan “anak syubhat”, yakni anak yang tidak jelas siapa bapaknya dan apabila anaknya adalah perempuan maka ia tidak sah, karena ia tidak dinikahkan oleh walinya.

Iddah itu wajib hukumnya bagi seorang perempuan yang dicerai oleh suaminya. Sebagaimana yang telah dijelaskan bahwa seorang perempuan sedang mengandung atau tidak.

a.  Wanita yang haidl, ‘iddahnya 3 kali quru’ (tiga kali haidl/tiga kali suci).

وَ اْلمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ ثَلثَةَ قُرُوْءٍ، وَ لاَ يَحِلُّ لَهُنَّ اَنْ يَّكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللهُ فِيْ اَرْحَامِهِنَّ اِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلاخِرِ، وَ بُعُوْلَتُهُنَّ اَحَقُّ بِرَدّهِنَّ فِيْ ذلِكَ اِنْ اَرَادُوْا اِصْلاحًا. البقرة:228

Wanita-wanita yang dithalaq hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) itu menghendaki ishlah. [QS. Al-Baqarah : 228]

عَنِ اْلاَسْوَدِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: اُمِرَتْ بَرِيْرَةُ اَنْ تَعْتَدَّ بِثَلاَثِ حِيَضٍ. ابن ماجه، فى نيل الاوطار 6:326

Dari Aswad, dari ‘Aisyah, ia berkata, “Barirah disuruh (oleh Nabi SAW) supaya ber’iddah tiga kali haidl”. [HR. Ibnu Majah, dalam Nailul 6:326]

b.  Wanita yang ditinggal mati suaminya, iddahnya 4 bulan 10 hari.

وَ الَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَ يَذَرُوْنَ اَزْوَاجًا يَّتَرَبَّصْنَ بِاَنْفُسِهِنَّ اَرْبَعَةَ اَشْهُرٍ وَّ عَشْرًا، فَاِذَا بَلَغْنَ اَجَلَهُنَّ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْمَا فَعَلْنَ فِيْ اَنْفُسِهِنَّ بِاْلمَعْرُوْفِ، وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ. البقرة:234

Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber’iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat. [QS. Al-Baqarah : 234]

عَنْ اُمّ سَلَمَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ مُسْلِمَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ اَنْ تُحِدَّ فَوْقَ ثَلاَثَةِ اَيَّامٍ اِلاَّ عَلَى زَوْجِهَا اَرْبَعَةَ اَشْهُرٍ وَ عَشْرًا. البخارى و مسلم، فىنيل الاوطار 6:329

Dari Ummu Salamah bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita muslimah yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung lebih dari tiga hari kecuali terhadap suaminya, yaitu empat bulan sepuluh hari”. [HR Bukhari dan Muslim, dalam Nailul 6:329]

عَنْ اُمّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: كُنَّا نُنْهَى اَنْ نُحِدَّ عَلَى مَيّتٍ فَوْقَ ثَلاَثٍ اِلاَّ عَلَى زَوْجٍ اَرْبَعَةَ اَشْهُرٍ وَ عَشْرًا. وَ لاَ نَكْتَحِلَ وَ لاَ نَتَطَيَّبَ وَ لاَ نَلْبَسَ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا اِلاَّ ثَوْبَ عَصْبٍ. وَ قَدْ رُخّصَ لَنَا عِنْدَ الطُّهْرِ اِذَا اغْتَسَلَتْ اِحْدَانَا مِنْ مَحِيْضِهَا فِى نُبْذَةٍ مِنْ كُسْتِ اَظْفَارٍ. البخارى و مسلم، فى نيل الاوطار 6:332

Dari Ummu ‘Athiyah, ia berkata, “Kami dilarang berkabung terhadap orang mati lebih dari tiga hari kecuali terhadap suami, yaitu empat bulan sepuluh hari, dimana tidak boleh bercelak, tidak boleh berwangi-wangian dan tidak boleh memakai pakaian yang dicelup, kecuali kain genggang (pakaian yang tidak mencolok), dan kami diberi keringanan pada waktu suci yaitu apabila salah seorang diantara kami mandi dari haidlnya (menggunakan) sedikit qust adhfar (sejenis kayu yang berbau harum)”. [HR. Bukhari dan Muslim]

و فى رواية قالت: قَالَ النَّبِيُّ ص: لاَ يَحِلُّ ِلامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَ اْليَوْمِ اْلآخِرِ تُحِدُّ فَوْقَ ثَلاَثٍ اِلاَّ عَلَى زَوْجٍ فَاِنَّهَا لاَ تَكْتَحِلُ وَ لاَ تَلْبَسُ ثَوْبًا مَصْبُوْغًا اِلاَّ ثَوْبَ عَصْبٍ، وَ لاَ تَمَسُّ طِيْبًا اِلاَّ اِذَا طَهُرَتْ نُبْذَةً مِنْ قُسْطٍ اَوْ اَظْفَارٍ. احمد و البخارى و مسلم، فى نيل الاوطار 6:332

Dan dalam riwayat lain (dikatakan), Ummu ‘Athiyah berkata : Nabi SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkabung lebih dari tiga hari kecuali terhadap suami, maka istri tidak boleh bercelak, tidak boleh memakai pakaian yang dicelup kecuali kain genggang dan tidak boleh memakai wangi-wangian kecuali apabila bersuci (dengan menggunakan) sedikit qust atau adhfar (sejenis kayu yang berbau harum)”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]

عَنْ اُمّ سَلَمَةَ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ ص حِيْنَ تَوَفَّى اَبُوْ سَلَمَةَ وَ قَدْ جَعَلْتُ عَلَيَّ صَبْرًا، فَقَالَ: مَا هذَا يَا اُمَّ سَلَمَةَ؟ فَقُلْتُ: اِنَّمَا هُوَ صَبْرٌ يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَيْسَ فِيْهِ طِيْبٌ. قَالَ: اِنَّهُ يَشُبُّ اْلوَجْهَ فَلاَ تَجْعَلِيْهِ اِلاَّ بِاللَّيْلِ وَ تَنْزَعِيْنَهُ بِالنَّهَارِ. وَ لاَ تَمْتَشِطِيْ بِالطّيْبِ وَ لاَ بِاْلحِنَّاءِ، فَاِنَّهُ خِضَابٌ. قَالَتْ: قُلْتُ: بِأَيّ شَيْءٍ اَمْتَشِطُ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: بِالسّدْرِ تُغَلّفِيْنَ بِهِ رَأْسَكِ. ابو داود و النسائى، فى نيل الاوطار 6:332

Dari Ummu Salamah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah masuk ke (rumahku) ketika Abu Salamah meninggal dunia, sedang aku memakai celak. Lalu Nabi SAW bertanya, “Apa ini, hai Ummu Salamah ?”. Kemudian aku menjawab, “Ini jadam (celak) ya Rasulullah, yang tidak ada wangi-wangiannya”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya jadam itu mempercantik wajah, maka janganlah kamu pakai kecuali pada waktu malam dan hilangkan di waktu siang. Janganlah kamu bersisir menggunakan wangi-wangian atau hinna’, karena sesungguhnya itu juga pewarna”. Ummu Salamah berkata : Aku bertanya, “Kalau begitu aku harus bersisir dengan apa ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab, “Dengan daun bidara yang kamu dapat menggunakannya di kepalamu dengannya”. [HR. Abu Dawud dan Nasai]

c.  Wanita yang telah berhenti dari haidl atau tidak haidl, ‘iddahnya 3 bulan.

وَالّئِيْ يَئِسْنَ مِنَ اْلمَحِيْضِ مِنْ نِسَآئِكُمْ اِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلثَةُ اَشْهُرٍ وَالّئِيْ لَمْ يَحِضْنَ. الطلاق:4

Dan wanita-wanita yang tidak haidl lagi (menopause) diantara wanita-wanitamu jika kamu ragu-ragu (tentang masa ‘iddahnya) maka ‘iddah mereka adalah tiga bulan, dan begitu (pula) wanita-wanita yang tidak haidl. [QS. Ath-Thalaaq : 4]

d.  Wanita yang hamil, ‘iddahnya hingga melahirkan.

وَ اُولاَتُ اْلاَحْمَالِ اَجَلُهُنَّ اَنْ يَّضَعْنَ حَمْلَهُنَّ، وَ مَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّه مِنْ اَمْرِه يُسْرًا. الطلاق:4

Dan wanita-wanita yang hamil, waktu ‘iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. [QS. Ath-Thalaaq : 4]

Tidak ada ‘iddah bagi wanita yang belum dikumpuli

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْآ اِذَا نَكَحْتُمُ اْلمُؤْمِنتِ ثُمَّ طَلَّقْتُمُوْهُنَّ مِنْ قَبْلِ اَنْ تَمَسُّوْهُنَّ فَمَا لَكُمْ عَلَيْهِنَّ مِنْ عِدَّةٍ تَعْتَدُّوْنَهَا، فَمَتّعُوْهُنَّ وَ سَرّحُوْهُنَّ سَرَاحًا جَمِيْلاً. الاحزاب:49

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi wanita-wanita yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya, maka sekali-kali tidak wajib atas mereka ‘iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka berilah mereka mut’ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik-baiknya. [QS. Al-Ahzab : 49]

Back To Top