Hadis Tentang Besar Kecilnya Mahar atau Maskawin

Hadis Tentang Besar Kecilnya Mahar atau Maskawin

عَنْ عَامِرِ بْنِ رَبِيْعَةَ اَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِى فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَ رَضِيْتِ مِنْ نَفْسِكِ وَ مَالِكِ بِنَعْلَيْنِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. فَاَجَازَهُ. احمد و ابن ماجه و الترمذى و صححه

Dari ‘Amir bin Rabi’ah, bahwa sesungguhnya pernah ada seorang wanita dari Bani Fazarah yang dinikah dengan (mahar) sepasang sandal, lalu Rasulullah SAW  bertanya, “Ridlakah kamu atas dirimu dan hartamu dengan (mahar) sepasang sandal ?”. Ia menjawab, “Ya”. Maka Rasulullah SAW memperkenankannya”. [HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Tirmidzi, dan Tirmidzi mengesahkannya]

عَنْ جَابِرٍ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: لَوْ اَنَّ رَجُلاً اَعْطَى امْرَأَةً صَدَقًا مِلْءَ يَدَيْهِ طَعَامًا كَانَتْ لَهُ حَلاَلاً. احمد و ابو داود بمعناه

Dari Jabir RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Kalau seorang laki-laki memberikan mahar berupa makanan sepenuh dua tapak tangannya, maka halallah wanita itu baginya”. [HR. Ahmad dan Abu Dawud meriwayatkan yang semakna dengan itu]

عَنْ اَنَسٍ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص رَأَى عَلَى عَبْدِ الرَّحْمنِ بْنِ عَوْفٍ اَثَرَ صُفْرَةٍ. فَقَالَ: مَا هذَا؟ قَالَ: تَزَوَّجْتُ امْرَأَةً عَلَى وَزْنِ نَوَاةٍ مِنْ ذَهَبٍ. قَالَ: بَارَكَ اللهُ لَكَ، اَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ. الجماعة الا ابا داود

Dari Anas RA, bahwa sesungguhnya Nabi SAW pernah melihat bekas kuning-kuning pada Abdurrahman bin Auf, lalu beliau bertanya, “Apa ini ?”. Abdurrahman menjawab, “Aku baru saja menikahi seorang wanita dengan (mahar) emas seberat biji kurma”. Nabi SAW bersabda, “Semoga Allah memberkatimu, selenggarakanlah walimah walau hanya dengan (memotong) seekor kambing”. [HR. Jamaah kecuali Abu Dawud]

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِنَّ اَعْظَمَ النِّكَاحِ بَرَكَةً اَيْسَرُهُ مَئُوْنَةً. احمد

Dari ‘Aisyah RA, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Nikah yang paling besar berkahnya yaitu yang paling ringan maharnya”. [HR. Ahmad]

عَنْ اَبِى سَلَمَةَ قَالَ: سَاَلْتُ عَائِشَةَ: كَمْ كَانَ صَدَاقُ رَسُوْلِ اللهِ ص؟ قَالَتْ: كَانَ صَدَاقُهُ ِلاَزْوَاجِهِ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ اُوْقِيَّةً وَ نَشًّا. قَالَتْ: اَتَدْرِى مَا النَّشُّ؟ قُلْتُ: لاَ. قَالَتْ: نِصْفُ اُوْقِيَّةٍ.فَتِلْكَ خَمْسُمِائَةِ دِرْهَمٍ. الجماعة الا البخارى و الترمذى

Dari Abu Salamah, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Aisyah, “Berapakah mahar Rasulullah SAW”. Ia menjawab, “Mahar beliau kepada isteri-isterinya adalah dua belas uqiyah lebih satu nasy”. Aisyah bertanya, “Tahukah kamu apakah nasy itu ?”. Aku menjawab, “Tidak”. Aisyah berkata, “Setengah uqiyah, jadi seluruhnya sama dengan lima ratus dirham”. [HR. Jamaah kecuali Bukhari dan Tirmidzi]

Catatan : 1 uqiyah  sama dengan 40 dirham.

عَنْ اَبِى اْلعَجْفَاءِ قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ يَقُوْلُ: لاَ تَغْلُوْا صُدُقَ النِّسَاءِ وَ اِنَّهَا لَوْ كَانَت مَكْرُوْمَةً فِى الدُّنْيَا اَوْ تَقْوَى فِى اْلآخِرَةِ، كَانَ اَوْلاَكُمْ بِهَا النَّبِيُّ ص. مَا اَصْدَقَ رَسُوْلُ اللهِ ص امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَ لاَ اُصْدِقَتِ امْرَأَةٌ مِنْ بَنَاتِهِ اَكْثَرَ مِنْ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ اُوْقِيَّةً. الخمسة و صححه الترمذى

Dari Abu ‘Ajfaa’, dia berkata : Aku pernah mendengar Umar berkata, “Janganlah kamu berlebih-lebihan dalam memberi mahar kepada wanita, meskipun dia seorang yang dimuliakan di dunia atau seorang yang terpelihara di akhirat. Adapun yang paling utama (dalam menghormati wanita) diantara kamu adalah Nabi SAW. Padahal tidaklah Rasulullah SAW memberi mahar kepada seorang pun dari istri-istrinya dan tidak pula putri-putri beliau itu diberi mahar lebih dari dua belas uqiyah”. [HR. Khamsah dan disahkan oleh Tirmidzi]

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ اُمِّ حَبِيْبَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص تَزَوَّجَهَا وَ هِيَ بِاَرْضِ اْلحَبَشَةِ زَوَّجَهَا النَّجَاشِيُّ وَ اَمْهَرَهَا اَرْبَعَةَ آلاَفٍ وَ جَهَّزَهَا مِنْ عِنْدِهِ وَ بَعَثَ بِيْهَا مَعَ شُرَحْبِيْلَ بْنِ حَسْنَةَ وَ لَمْ يَبْعَثْ اِلَيْهَا رَسُوْلُ اللهِ ص بِشَيْءٍ وَ كَانَ مَهْرُ نِسَائِهِ اَرْبَعَمِائَةِ دِرْهَمٍ. احمد و النسائى

Dari ‘Urwah dari Ummu Habibah, sesungguhnya Rasulullah SAW telah menikahinya sedang ia berada di Habasyah yang dinikahkan oleh Najasyi (raja Habasyah) dan beliau memberi mahar empat ribu (dirham) yang beliau persiapkan sendiri. Beliau mengirimnya lewat Syurahbil bin Hasnah. Dan Rasulullah SAW tidak mengirim sesuatu kepadanya (selain mahar itu), sedang mahar untuk istri-istrinya (yang lain) adalah empat ratus dirham”. [HR. Ahmad dan Nasai]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: لَمَّا تَزَوَّجَ عَلِيٌّ فَاطِمَةَ قَالَ لَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَعْطِهَا شَيْئًا. قَالَ: مَا عِنْدِى شَيْءٌ. قَالَ: اَيْنَ دِرْعُكَ اْلحُطَمِيَّةُ؟ ابو داود و النسائى

Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Tatkala Ali kawin dengan Fathimah, maka Rasulullah SAW bersabda kepada Ali, “Berilah ia sesuatu !”. Ali menjawab, “Saya tidak punya apa-apa”. Rasulullah SAW bertanya, “Mana baju besimu dari Huthamiyah itu ?”. [HR. Abu Dawud dan Nasai]

و فى رواية اَنَّ عَلِيًّا رض لَمَّا تَزَوَّجَ فَاطِمَةَ اَرَادَ اَنْ يَدْخُلَ بِهَا فَمَنَعَهُ رَسُوْلُ اللهِ ص حَتَّى يُعْطِيَهَا شَيْئًا. فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَيْسَ لِيْ شَيْءٌ. فَقَالَ لَهُ: اَعْطِهَا دِرْعَكَ اْلحُطَمِيَّةَ، فَاَعْطَاهَا دِرْعَهُ، ثُمَّ دَخَلَ بِهَا. ابو داود

Dan dalam riwayat lain (dikatakan) : Bahwa sesungguhnya Ali RA setelah menikahi Fathimah, ketika ia ingin serumah dengannya lalu Rasulullah SAW mencegahnya sehingga ‘Ali memberinya sesuatu. Lalu Ali berkata, “Ya Rasulullah, aku tidak mempunyai apa-apa”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda kepadanya, “Berikan baju besimu dari Huthamiyah itu kepadanya !”. Maka Ali memberikan baju besi itu kepada Fathimah, lalu ia serumah dengan Fathimah. [HR. Abu Dawud]

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص جَائَتْهُ امْرَأَةٌ وَ قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنِّى قَدْ وَهَبْتُ نَفْسِى لَكَ، فَقَامَتْ قِيَامًا طَوِيْلاً. فَقَالَ رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، زَوِّجْنِيْهَا اِنْ لَمْ يَكُنْ لَكَ فِيْهَا حَاجَةٌ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: هَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَيْءٍ تُصْدِقُهَا اِيَّاهُ؟ فَقَالَ: مَا عِنْدِيْ اِلاَّ اِزَارِيْ هذَا. فَقَالَ النَّبِيُّ ص. اِنْ اَعْطَيْتَهَا اِزَارَكَ جَلَسْتَ لاَ اِزَارَ لَكَ، فَالْتَمِسْ شَيْئًا. فَقَالَ: مَا اَجِدُ شَيْئًا. فَقَالَ: اِلْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ. فَالْتَمَسَ فَلَمْ يَجِدْ شَيْئًا. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ص: هَلْ مَعَكَ مِنَ اْلقُرْآنِ شَيْئٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. سُوْرَةُ كَذَا وَ سُوْرَةُ كَذَا لِسُوَرٍ يُسَمِّيْهَا. فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ ص: قَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ اْلقُرْآنِ. احمد و البخارى و مسلم

Dari Sahl bin Sa’ad bahwa sesungguhnya Nabi SAW pernah didatangi seorang wanita lalu berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku menyerahkan diriku untukmu”. Lalu wanita itu berdiri lama. Kemudian berdirilah seorang laki-laki dan berkata, “Ya Rasulullah, kawinkanlah saya dengannya jika engkau sendiri tidak berminat kepadanya”. Kemudian Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu yang dapat kamu pergunakan sebagai mahar untuknya ?”. Ia menjawab, “Saya tidak memiliki apapun melainkan pakaian ini”. Lalu Nabi bersabda, “Jika pakaianmu itu kamu berikan kepadanya maka kamu tidak berpakaian lagi. Maka carilah sesuatu yang lain”. Kemudian laki-laki itu berkata, “Saya tidak mendapatkan sesuatu yang lain”. Lalu Nabi  SAW bersabda, “Carilah, meskipun cincin dari besi”. Lalu laki-laki itu mencari, tetapi ia tidak mendapatkannya. Kemudian Nabi SAW bertanya kepadanya, “Apakah kamu memiliki hafalan ayat Al-Qur’an ?”. Ia menjawab, “Ya. Surat ini dan surat ini”. Ia menyebutkan nama-nama surat tersebut, kemudian Nabi SAW bersabda kepadanya, “Sungguh aku telah menikahkan kamu dengannya dengan apa yang kamu miliki dari Al-Qur’an itu”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]

و فى رواية لمسلم: قَالَ: اِنْطَلِقْ، لَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا فَعَلِّمْهَا مِنَ اْلقُرْآنِ.

Dan dalam riwyat lain oleh Muslim : Nabi SAW bersabda, “Pergilah, sungguh aku telah menikahkan kamu dengannya, maka ajarilah dia dengan Al-Qur’an”.

Keterangan :

A. Dari ayat maupun hadits tersebut diatas menunjukkan bahwa memberikan maskawin kepada wanita yang dinikahi itu merupakan kewajiban. Adapun besarnya maskawin tidak ada ketentuan yang pasti. Dan maskawin bisa diberikan secara tunai maupun dengan ditangguhkan.

B. Dan dari ayat maupun hadits yang telah lalu (brosur yang lalu), bisa diambil pengertian bahwa syarat pernikahan adalah sebagai berikut :
1.  Ada calon pengantin laki-laki dan wanita.
2.  Ada maskawin/mahar.
3.  Harus ada wali (Bagi yang berpendapat wali itu wajib).
4.  Ada saksi yang adil (dua orang laki-laki, atau satu orang laki-laki dan dua wanita).
5.  Ada ijab qabul.

Back To Top