Biografi Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi

Biografi Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi - Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi (lahir di Kotagede, Yogyakarta, 20 Mei 1915 – meninggal 30 Januari 2001 pada umur 85 tahun) adalah mantan Menteri Agama Indonesia pada Kabinet Sjahrir I dan Kabinet Sjahrir II. Beliau adalah teman dekat Alm. Faisal dari Arab Saudi.

Sumbangsih Jasa-Jasanya buat Republik Indonesia tak ternilai harganya dari kacamata Pendidikan Internasional. Jepang, Perancis, Kanada, Amerika memerlukan tenaganya pada zamannya. Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi adalah Sarjana Kairo pertama dari Mahasiswa Indonesia dengan Nilai A. Sederhana, jujur dan amanah.

Beliau adalah Ketua Diplomatik RI pertama yang mengikuti utusan diplomat Mesir yang berkunjung ke Ibukota Jogyakarta Th.1947.

Saat Blokade Agresi Militer Belanda diperketat, rombongan diplomat Indonesia menembus dengan mengikuti pesawat diplomat Mesir yang berangkat menuju negara-negara Arab. Maka lahirlah perjanjian-perjanjian dengan Belanda Konferensi Meja Bundar yang diakui oleh dunia Internasional.
Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi
Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi
Dalam perjalanan sejarah pemikiran Islam di Indonesia, nama Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi tidak mungkin dibuang begitu saja. Menteri Agama RI yang pertama ini tercatat sebagai salah satu tokoh Islam terkemuka dan perintis tradisi intelektual di Indonesia.

Gelar doktornya diraih di Universitas Sorbonne, Paris, tahun 1956. Disamping berbagai buku penting telah ia lahirkan, Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi juga pernah menjadi pengajar di Mc Gill University, Kanada.

Tapi, meskipun akrab dengan pusat studi Islam di Barat, Rasjidi termasuk sedikit cendekiawan yang selamat dari jebakan pemikiran kaum orientalis. Ia bahkan kemudian menjadi salah satu pengkritik yang tajam dari pemikiran-pemikiran kaum orientalis dan pengikutnya di Indonesia.

Siapakah Rasjidi? Lelaki bertubuh mungil ini memiliki nama kecil Saridi. Ia lahir di Kotagede Yogyakarta pada Kamis 20 Mei 1915 atau 4 Rajab 1333 H. Ia anak kedua dari Bapak Atmosugido. 

Pendidikan dasarnya ditempuh di sekolah Muhammadiyah Yogyakarta. Rasjidi kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di perguruan Al Irsyad al Islamiyah, Malang, dibawah pimpinan Syekh Ahmad Surkati, pendiri organisasi Al-Irsyad Islamiyah.

Rasjidi termasuk yang sangat tinggi semangat mencari ilmunya, karena ia diajar oleh guru-guru yang bukan hanya dari Indonesia, tapi juga dari Mesir, Sudan dan Mekkah.

Syekh Ahmad Surkati pendiri al Irsyad al Islamiyah, mendidik langsung Rasjidi dengan seksama.  Menurut Surkati, Rasjidi adalah anak yang tekun dan cerdas, sehingga dicintai guru-gurunya. 

Kepandaian Rasjidi dalam bahasa Arab,mampu menghafal Kitab Alfiyah Ibnu Malik dalam usia 15 tahun, menjadikannya diangkat sebagai asisten pelajaran gramatika bahasa Arab. Dalam usia remaja itu, Rasjidi juga hafal buku Logika Aristoteles yang berjudul “Matan as Sullam.”

Perkenalannya dengan banyak guru-guru Timur Tengah itu, menjadikan Rasjidi bersemangat untuk melanjutkan studinya di Mesir. Di Mesir, selain mempelajari ilmu-ilmu agama, di Sekolah Persiapan Darul Ulum (setingkat Sekolah Menengah) ia juga diajar aljabar, ilmu bumi, sejarah dan lain-lain. 

Rasjidi menguasai bahasa Perancis, Inggris, Arab dan Belanda tentunya. Ia pun menjadi seorang hafizh, hafal al Qur’an 30 juz.

Soebagijo IN menceritakan: 

“Dengan diantar oleh Syekh Thantawy Djauhary pengarang Tafsir al Jawahir  yang masyhur serta sahabat karib Syekh Ahmad Surkati, dia mendaftarkan ke Sekolah Persiapan untuk memasuki Sekolah Guru Tinggi bahasa Arab yang bernama Darul Ulum (kelas III)... Rasjidi diuji untuk masuk kelas V. Di kelas itu dia belajar 8 bulan lamanya, dan akhirnya berhasil meraih diploma Sekolah Menengah Umum dengan agama dan hafal al Qur’an secara lengkap, yakni 30 juz Al Qur’an, di samping mendapatkan sertifikat untuk mata pelajaran bahasa Inggris dan Prancis. Karena di sana berlaku sistem Prancis, maka di Mesir diploma Sekolah Menengah Lanjutan disebut surat ijazah Baccalaureat. Dengan ijazah Baccalaureat itu, Rasjidi berhak meneruskan ke perguruan tinggi.”

Pilihannya kemudian diarahkan ke Universitas al Azhar, Kairo. Di sana ia mengambil jurusan Filsafat dan Agama. Setelah empat tahun belajar di situ, ia mendapat gelar Licence. Di kelas itu mahasiswanya hanya tujuh orang. Ia menempati rangking satu mengalahkan mahasiswa dari Mesir, Albania dan Sudan.

Setelah kembali ke tanah air beberapa tahun, Rasjidi melanjutkan kuliahnya di Fakultas Sastra, Universitas Sorbonne, Paris. 

Pada hari Jumat, 23 Maret 1956, Rasjidi akhirnya meraih gelar doktor di universitas terkemuka itu dengan disertasi berjudul l'Evolution de l'Islam en Indonesie ou Consideration Critique du Livre Centini (Evolusi Islam di Indonesia atau Tinjauan Kritik terhadap Kitab Centini).

Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi adalah Menteri Agama RI kedua setelah K.H. Wahid Hasyim. Di pemerintahan, ia juga pernah menjabat sebagai Duta Besar RI di Mesir, Arab Saudi dan lain-lain.

Sebelumnya di bidang organisasi, ia pernah terlibat diantaranya dalam organisasi PII dan Masyumi. Ia juga pernah aktif sebagai Dosen di Sekolah Tinggi Islam (UII) Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Guru Besar Filsafat Barat di IAIN Syarif Hidayatullah dan menjadi Dosen tamu di Mc Gill University.

Banyak buku telah ditulisnya, baik karya sendiri maupun terjemahan. 

Karya-karya asli Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi antara lain : 
  • Islam Menentang Komunisme, 
  • Islam dan Indonesia di Zaman Modern, 
  • Islam dan Kebatinan, Islam dan Sosialisme, 
  • Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam, 
  • Agama dan Etik, 
  • Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi, 
  • Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional, 
  • Hendak Dibawa Kemana Umat Ini?  
Sedangkan karya terjemahan Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi antara lain: 
  • Filsafat Agama, 
  • Bibel QurĂ¡n dan Sains Modern, 
  • Humanisme dalam Islam, 
  • Janji-janji Islam dan Persoalan-persoalan Filsafat.

Dalam khasanah pemikiran Islam di Indonesia, Nama Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi seperti sengaja ditenggelamkan. Saat mengajar di Mc Gill, Rasjidi-lah yang membawa Harun Nasution untuk melanjutkan studi di Mc Gill.

Bahkan, selama satu tahun, ia memberikan tumpangan rumah kepada Harun Nasution. Toh, Rasjidi kemudian tidak kehilangan sikap kritis terhadap sahabat dekatnya itu.

Ketika buku Harun Nasution yang berjudul Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya dijadikan sebagai buku pegangan di Perguruan Tinggi Islam, tahun 1973, Rasjidi segera memberikan kritik-kritik tajamnya.

Setelah menunggu dua tahun surat pribadinya tidak dijawab oleh Menteri Agama, ia kemudian menerbitkan bukunya yang berjudul: Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya.  

Tentang buku Harun Nasution tersebut, Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi menyatakan: 

“Saya menjelaskan kritik saya fasal demi fasal dan menunjukkan bahwa gambaran Dr. Harun tentang Islam itu sangat berbahaya, dan saya mengharapkan agar Kementrian Agama mengambil tindakan terhadap buku tersebut, yang oleh Kementrian Agama dan Direktorat Perguruan Tinggi dijadikan buku wajib di seluruh IAIN di Indonesia.”

Kritik Rasjidi dianggap angin lalu saja. Buku Harun Nasution dijadikan buku pegangan wajib, tanpa menyertakan kritik dari Rasjidi.

Bisa dipahami, jika banyak mahasiswa yang kemudian mengenal dan menjadi pengikut setia pemikiran Harun Nasution. Padahal, Rasjidi sudah mengingatkan, cara pandang buku tersebut terhadap Islam adalah “sangat berbahaya”.

Tahun 1972, ketika ribut-ribut tentang pemikiran Nurcholish Masjid tentang sekularisasi, Rasjidi juga mengangkat pena dan menulis buku berjudul Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekulerisme.

Buku itu pun ia luncurkan setelah upaya pendekatan secara pribadi gagal dilakukan. Sebagai guru besar di Universitas Indonesia, Rasjidi tak segan-segan menasehati Nurcholish yang ketika itu masih sarjana S-1.

Setelah memberikan kritiknya, Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi menulis: 

“... jika Saudara sudah pernah membaca uraian semacam ini, dan Saudara tetap dalam alam sekularisasi dan desakralisasi Saudara, maka saya hanya dapat berkata: “Saya telah melakukan kewajiban saya, watawasau bil-haqqi watawasau bissabri.”

Pendidikan Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi :
  • Fakultas Filsafat, Universitas Kairo, Mesir (1938)
  • Universitas Sorbonne, Paris (Doktor, 1956)

Karier Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi :
  • Guru pada Islamitische Middelbaare School (Pesantren Luhur), Surakarta (1939-1941)
  • Pegawai Departemen P & K di zaman Jepang
  • Pegawai RRI Jakarta, siaran luar negeri
  • Menteri Agama Kabinet Sjahrir (1946)
  • Ketua delegasi diplomatik RI Pertama ke negara- negara Arab, Mesir, Yordania, Syria, Lebanon,Irak (1947-1949)
  • Dubes RI di Mesir dan Arab Saudi(1949-1951)
  • Dubes RI di Iran (1953-1954)
  • Dirjen Penerangan Deparlu/Deplu (1954-1955)
  • Dubes RI di Pakistan (1956-1958)
  • Associate Professor pada Institut Studi Islam, Universitas McGill, Kanada (1959)
  • Direktur Islamic Center, Washington, AS ( 1964-1967)
  • Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia ( 1968-1985 )
  • Direktur kantor Rabitah Alam Islami, Jakarta
Kegiatan Lain Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi :
  • Anggota Pengurus Besar PII Partai Islam Indonesia (1940)
  • Anggota Allience Francaise (Perhimpunan Perancis) (1940)
  • Anggota Islam Studie Club (1940)
  • Anggota PP Muhammadiyah
  • Anggota Dewan Pusat Dakwah

Karya Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi :
  • Consideration critique du Centini ou evolution de I'Islam en Indonesie (1956)
  • Unity and Diversity in Islam dalam Prof. Kenneth Morgan, Islam the Straight Path, Ronald Press New York (1956)
  • Filsafat Agama (1965)
  • Keutamaan Hukum Islam
  • Islam dan Kebatinan (1967)
  • Koreksi terhadap Drs. Nurcholish Madjid tentang Sekuralisme (1972)
  • Empat Kuliah Agama Islam di Perguruan Tinggi (1974)
  • Sidang Raya Dewan Gereja Sedunia di Jakarta (1975)
  • Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam ditinjau dari berbagai aspeknya, Bulan Bintang, (1977)
  • Bibel, Qur'an dan Sains Modern, terjemahan dari buku La Bible, le coran et la science, dr. Maurice Bucaille (1978)
  • Kebebasan Beragama, Media Dakwah, (1979)
  • Humanisme dalam Islam terjemahan I'Humanisme de I'Islam oleh Dr. Marcel Boisard (1980)
  • Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional (1980)
  • Janji-janji Islam, terjemahan dari Promesses de Islam karya Roger Garaudy, Bulan Bintang (1982)
  • Persoalan Filsafat terjemahan The Living Issue of Philosophy oleh Titus cs, Amerika (1984)
  • Apakah itu Syiah (1984)

Back To Top